Hukum Mengeraskan Bacaan Al-Qur’an di Masjid dan di Tempat Lain

HUKUM MENGERASKAN BACAAN AL-QURAN DI MASJID & DI TEMPAT LAIN.

Apabila mengeraskan bacaan al-Quran di masjid tidak menyebabkan orang lain merasa terganggu, karna masjidnya kosong maka hukum mengeraskan suara mubah, namun jika kerasnya bacaan al-Quran menyebabkan ada orang yang terganggu, maka hukumnya terlarang,

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dari jalan Abu Sa’id Al-Khudhri radhiyallahu ‘anhu.

اعْتَكَفَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَسْجِدِ فَسَمِعَهُمْ يَجْهَرُونَ بِالْقِرَاءَةِ فَكَشَفَ السِّتْرَ وَقَالَ أَلَا إِنَّ كُلَّكُمْ مُنَاجٍ رَبَّهُ فَلَا يُؤْذِيَنَّ بَعْضُكُمْ بَعْضًا وَلَا يَرْفَعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ فِي الْقِرَاءَةِ أَوْ قَالَ فِي الصَّلَاةِ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf di masjid, lalu beliau mendengar mereka (para sahabat) mengeraskan bacaan (Al-Qur’an) mereka. Kemudian beliau membuka tirai sambil bersabda, “Ketahuilah, sesungguhnya kalian sedang berdialog dengan Rabb kalian. Oleh karena itu, janganlah sebagian kalian mengganggu sebagian yang lain, dan jangan pula sebagian yang satu mengeraskan terhadap sebagian yang lain di dalam membaca Al-Qur’an” atau beliau mengatakan, “atau dalam shalatnya.” (HR. Abu Dawud no. 1332, shahih).

قال الباجي في شرح الموطأ: ولا يجهر بعضكم على بعض بالقرآن لأن في ذلك إيذاء بعضهم لبعض، ومنعاً من الإقبال على الصلاة، وتفريغ السر لها، وتأمل ما يناجي به ربه من القرآن، وإذا كان رفع الصوت بقراءة القرآن ممنوعاً حينئذ لإذاية المصلين، فإن منع رفع الصوت بالحديث وغيره أولى وأحرى لما ذكرناه، ولأن في ذلك استخفافاً بالمساجد، واطراحاً لتوقيرها وتنزيهها الواجب، وإفرادها لما بنيت له من ذكر الله تعالى. انتهى.

Berkata al-Baji rahimahullah dalam “Syarhul Muatha’“: Dan janganlah sebagian dari kalian mengeraskan bacaan(al-Quran) diantara Sebagian yang lain, karna itu akan menyebabkan gangguan diantara kalian, dan menghalangi seseorang khusu’ dalam sholat, serta akan mengahalangi orang shalat untuk mentadabburi ayat-ayat yang ia baca dalam shalatnya, apabila membaca al-Quran dengan suara keras di larang karna mengganggu orang yang sedang shalat, maka mengangkat suara untuk membaca hadist, dan keributan-kerbutan yang lain lebih utama untuk di larang, karna itu merupakan perbuatan yang tidak menghormati rumah-rumah Allah ta’ala dan mengilangkan yang seharusnya di amalkan, yaitu untuk berdzikir kepada Allah(dengan suara yang tidak mengganggu).
[al-Muntaqa lil Baji rahimahullah].

Sejatinya, mengeraskan bacaan al-Quran tidak di larang dan tidak tercela adanya, bahkan lantunan ayat al-Quran akan membuat hati seseorang menjadi lebih lembut dan membuat hati akan lebih hidup, apalagi jika mengeraskan suara ini di pergunakan untuk mengajarkan al-Quran, maka ini adalah sebuah kemuliaan.

Bolehnya mengeraskan suara dengan syarat sebagai berikut:

1. Mengeraskan suara tidak khawatir akan tertimpa penyakit riya’.

2. Tidak untuk mencari pujian dan popularitas.

3. Tidak mengganggu orang yang sedang beribadah kepada Allah ta’ala atau mengganggu orang yang sedang beristirahat dari keletihannya.

Dalil bolehnya mengeraskan suara, dari ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau mengatakan,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَمِعَ رَجُلًا يَقْرَأُ مِنْ اللَّيْلِ فَقَالَ يَرْحَمُهُ اللَّهُ لَقَدْ أَذْكَرَنِي كَذَا وَكَذَا آيَةً كُنْتُ أَسْقَطْتُهَا مِنْ سُورَةِ كَذَا وَكَذَا

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendengar seseorang membaca (Al-Qur`an) di dalam masjid, lalu beliau bersabda, “Semoga Allah merahmati si Fulan. Sesungguhnya dia telah mengingatkanku tentang ayat ini dan ini, yakni ayat yang aku lupa dari surat ini dan itu.” (HR. Bukhari no. 5037 dan Muslim no. 788).

Pandai-pandailah melihat kondisi di sekeliling anda, jika mengeraskan bacaan al-Quran, menyebabkan gangguan pada orang lain maka lirihkanlah, namun jika tidak maka silahkan mengeraskan suara selama tidak berlebihan.

Jangan sampai amalan yang kita anggap sebagai penghasil pahala, namun di sisi Allah ta’ala dicatat sebagai dosa dan penghapus pahala.

Berilmulah sebelum berkata dan beramal jangan hanya bermodalkan semangat.

Wallahu a’lam Bishowab.

✍️ Muhaimim Abu Shofiya.

BAAROKALLAHU FIIKUM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *