Syubhat-Syubhat Para Pendukung Bid’ah Hasanah

Photo of author

By Muhaimin Azis

SYUBHAT-SYUBHAT PARA PENDUKUNG BID’AH HASANAH.

Syubhat-syubhat yang berkaitan dengan dalil-dalil syar’i yang terbagi menjadi dua bagian:

1. Hadist-hadist lemah dan palsu.

2. Hadist-hadist sohih namun cara beristidlal(berhujjah) yang keliru, untuk mendukung adanya bid’ah hasanah.

BAGIAN PERTAMA

1.Hadist-hadist yang di gunakan sebagai hujjah untuk mendukung bid’ah hasanah, yang notabenenya adalah dalil-dalil yang lemah atau palsu. diantaranya:

Hadist pertama:

Hadist Katsir bin Abdillah dia adalah Ibnu Amr bin Auf Al-Muzanny Rahimahumullah.

* عن أبيه عن جده أن النبي صلى الله عليه وسلم قال لبلال بن الحارث اعلم قال ما أعلم يا رسول الله قال اعلم يا بلال قال ما أعلم يا رسول الله قال إنه من أحيا سنة من سنتي قد أميتت بعدي فإن له من الأجر مثل من عمل بها من غير أن ينقص من أجورهم شيئا ومن ابتدع بدعة ضلالة لا ترضي الله ورسوله كان عليه مثل آثام من عمل بها لا ينقص ذلك من أوزار الناس شيئا *

[Di riwayatkan oleh Imam At-Tirmidzy]

Para pendukung bid’ah hasanah menggunakan potongan hadist ini sebagai dalil adanya bid’ah hasanah yaitu ” ومن ابتدع بدعة ضلالة لا ترضي الله ورسوله كان عليه مثل آثام من عمل بها ” Barang siapa yang membuat bid’ah yg sesat, yang tidak di ridhoi Allah ta’ala dan RasulNya, maka ia akan mendapatkan dosa dan dosa orang mengikutinya.

Syubhat mereka:

Bahwa tidak semua bid’ah itu sesat buktinya Rasulullah sallallahu alaihi wasallam mensifati bid’ah yg di larang dengan bid’ah yang sesat yang tidak di ridhoi Allah ta’ala dan RasulNya, Maka jika bid’ah itu hasanah dan di ridhoi, maka itu adalah kebaikan.

Sanggahan:

1. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam menyebutkan “bid’ah yang sesat“, karna pada hakikatnya seluruh bid’ah itu memang sesat, sebagaimana yang di sebutkan dalam hadist yang lain yakni ” كل بدعة ضلالة” setiap bid’ah itu sesat. [HR.Muslim].

2. Dalam potongan hadist di atas Rasulullah menyebutkan bahwa orang yang mendapatkan pahala adalah orang yang menghidupkan sunnah yang sudah mati, bukan malah membuat amalan-amalan baru (dalam agama) yang di anggap sunnah.

3. Ketiga dalil di atas bisa di gunakan sebagai hujjah apabila hadistnya sohih, namun faktanya hadist tersebut lemah bahkan sampai kepada derajat hadist yang maudu’ (palsu), di sebabkan karna ada seorang perowi yang bernama Kastir bin Abdillah bin Umar bin Auf Al-Muzani, salah seorang perowi yang di sifati pendusta oleh Imam Abu Daud rahimahullah.

Hadist kedua:

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَا رَآهُ الْمُسْلِمُوْنَ حَسَناً؛ فَهُوَ عِنْدَ اللهِ حَسَنٌ، وَمَا رَآهُ الْمُسْلِمُوْنَ سَيِّئاً؛ فَهُوَ عِنْدَ اللهِ سَيِّئٌ

Apa saja yang dipandang kaum muslimin merupakan kebaikan maka ia di sisi Allah juga merupakan kebaikan. Dan apa saja yang dipandang kaum muslimin merupakan keburukan maka ia di sisi Allah juga merupakan keburukan” (HR Ahmad).

Karenanya jika kaum muslimin memandang suatu bid’ah baik maka ia juga baik di sisi allah.

Sanggahan:

1. Hadist ini tidak sampai sanadnya kepada Rasulillah sallallahu alaihi wasallam, dan ini merupakan perkataan Ibnu Mas’ud radiyallahu anhu sebagimana di sebutkan oleh Imam Abu Daud dan Imam Ahmad rahimahumallah dalam musnad, kemudian di sebutkan oleh Al-Khatib dalam kitab Alfaqih wal Mutafaqih dan Al-Baihaqi dalam Al-Madkhal.

2. Dan didalam sanadnya terdapat perowi yang bernama Abu Daud An- Nakhoi yakni Sulaiman bin Amr, Berkata Imam Ahmad: bahwa dia suka membuat hadist palsu, dan seorang pendusta sebagaimana perkataan Ibnul Qoyyim Al- Jauziyah rahimahumullah.

3. Para ulama’ berhujjah dengan hadist ini dalam masalah/topik yang lain seperti:

a. Keutamaan para sahabat radiyallahu anhum, sebagaimana Imam Al-Hakim rahimahullah meletakannya dalam kitab beliau Bab “mengenal para sahabat”.

b. Hadist ini dijadikan sebagai hujjah ketika pengangkatan Abu Bakar sebagai khalifah, dan yang di maksud dengan ” فما رآه المسلمون حسنا فهو عند الله حسنا” adalah kesepakatan kaum muslimin(sahabat) dalam pengangkatan Abu Bakar radiyallahu anhum sebagai khalifah bukan pandangan baik kaum muslimin secara umum,  dan para ulama juga menetapkan ijma’ sahabat sebagai hujjah sebagaimana hal ini di jelaskan oleh Imam Ibnu Katsir dalam kitab Al-bidayah wan Nihayah.

c. Potongan hadist diatas juga digunakan oleh para ulama dalam topik pembahasan Ijma’, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Qudamah rahimahullah dalam kitab “Ar-Raudah” , dan Al-Khatib dalam kitab “Al-Faqih wal Mutafaqqih”.

d. Jika kita perhatikan yang dimaksud “Al-Muslimun” dalam hadist tersebut adalah para sahabat, karna yang menjadi topik pembicaraan adalah para sahabat radiyallahu anhum bukan kaum muslimin secara umum.

2. Syubhat para pendukung bid’ah hasanah yang berkaitan dengan hadist-hadist yang sohih namun mereka salah dalam pendalilan.

Hadist pertama:

Hadist yang di riwayatkan oleh Imam Muslim rahimahullah.

من سن في الإسلام سنة حسنة فله أجرها وأجر من عمل بها إلى يوم القيامة

Barangsiapa yang mencontohkan suatu sunnah (perbuatan) yang baik dalam Islam maka ia mendapat pahala sekaligus pahala orang lain yang mengamalkannya sampai hari kiamat

Hadist kedua:

Hadist riwayat muslim rahimahullah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

Artinya: “Barangsiapa yang menyeru kepada sebuah petunjuk maka baginya pahal seperti pahala-pahala orang-orang yang mengikutinya, hal tersebut tidak mengurangi akan pahala-pahala mereka sedikitpun dan barangsiapa yang menyeru kepada sebuah kesesatan maka atasnya dosa  seperti dosa-dosa yang mengikutinya, hal tersebut tidak mengurangi dari dosa-dosa mereka sedikitpun.

Syubhat mereka:

Hadist ini menunjukan bahwa Rasulullah membolehkan ummatnya membuat bid’ah, selama itu adalah bid’ah yg baik, apabila yang dimaksud adalah melakukan sunnah yang sudah ada/tsabit maka Rasulullah akan mengakatakan “من أحي سنة  أو من أحي سنة ثابتة “Barangsiapa menghidupkan sunnahku/sunnah yang ada…”, maka hadist ini jelas mengisyaratkan bahwa barangsiapa yang membuat perkara baru yang baik(dalam perkara ibadah), kemudian ada yang mengikutinya maka ia akan mendapatkan pahala serta pahala yang mengikutinya.

Sanggahan:

1. Apabila orang yang bernalar memadukan hadist ini dengan hadist ” فعليكم بسنتي وسنتي الخلفاء الراشدين”
Berpegang teguhlah dengan sunnahku dan sunnah khulafaur rasyidin” maka ia tidak akan mendapatkan pertentangan di dalamnya,
karna mengada-adakan amalan baru dalam islam, tidak di perbolehkan secara mutlak, namun harus diatur dan ada tuntunan dasarnya dari syariat, maka apabila tidak ada yanng mendasarinya maka akan menjadi bid’ah yang sesat.

Contoh:

1. Shalat roghooib atau ibadah-ibadah baru yang lain, meskipun didalamnya ada sholat, dzikir, rukuk dan sujud kepada Allah ta’ala, akan tetapi shalat ini tidak ada landasan syariatnya, dari sisi tatacara dan waktu, maka shalat ini pun menjadi bid’ah yang munkar.

2. Kisah Ibnu Mas’ud radiyallahu anhu ketika mendapati orang-orang di Kufah berdzikir berjamaah dengan cara menghitung kerikil, maka beliau pun mengingkari dan membid’ahkan apa yang mereka lakukan, padahal dzikir adalah amalan yang di syariatkan, hanya saja caranya yang salah kemudian di anggap sebagai ibadah, padahal tidak ada dalil yg mendasarinya dan sayangnya merekapun (yang berdzikir berjamaah) tidak menggunakan hadist di atas sebagai hujjah, jika memang di perbolehkan membuat amalan baru dalam islam. [HR. Ad-darimi dan ditahqiq oleh Ad-daraaniy].

3. Kisah Ibnu Umar yang mendengar salah seorang bersin kemudian ia mengucapkan “alhamdulillah wassholatu wassalamu ala rasulillah”, kemudian Ibnu Umar mengatakan ” bukan seperti ini yang diajarkan Rasulullah kepada kami, akan tetapi jika salah seorang di antara kalian bersin maka ucapkan “hamadalah”, jika di tela’ah bershalawat adalah ibadah yang mulia, akan tetapi tambahan shalawat tersebut tidak sesuai dengan tuntunan rasulullah maka itu di larang. [Di riwayatkan dari al imam Naafi’ Mufti dan seorang Alim di Madinah dan riwayat ini di katakan Garib oleh Abu Isaa].

Kesimpulannya adalah segala sesuatu tidak bisa di katakan baik (dalam agama), kecuali dengan pandangan syariat apakah itu di anjurkan atau tidak.

4. Hadist di atas adalah hadist yang maknanya umum dan di takhsis dengan hadist ” من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد” Barangsiapa yang membuat amalan baru dalam islam yang tidak ada contoh dari kami maka itu tertolak”.

5. Kronologi hadits diatas berbicara tentang seseorang yang mengawali bersedekah, kemudian di ikuti oleh yang lain, artinya amalan/sunnah yang di bicarakan dalam hadist tersebut adalah amalan/sunnah yang sudah ada tuntunanya bukan yang di ada-adakan.

Asbab wurud hadist di atas:

Dari Jarir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu berkata,

كنا في صَدْرِ النَّهَارِ عِنْدَ رَسُول الله – صلى الله عليه وسلم – فَجَاءهُ قَومٌ عُرَاةٌ مُجْتَابي النِّمَار أَوْ العَبَاء ، مُتَقَلِّدِي السُّيُوف ، عَامَّتُهُمْ من مضر بَلْ كُلُّهُمْ مِنْ مُضَرَ ، فَتَمَعَّرَ رَسُول الله – صلى الله عليه وسلم – لما رَأَى بِهِمْ مِنَ الفَاقَة، فَدَخَلَ ثُمَّ خَرَجَ ، فَأَمَرَ بِلالاً فَأَذَّنَ وَأَقَامَ ، فصَلَّى ثُمَّ خَطَبَ ، فَقَالَ : { يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ } إِلَى آخر الآية : { إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً } ، والآية الأُخْرَى التي في آخر الحَشْرِ : { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ }  تَصَدَّقَ رَجُلٌ مِنْ دِينَارِهِ، مِنْ دِرهمِهِ، مِنْ ثَوبِهِ ، مِنْ صَاعِ بُرِّهِ ، مِنْ صَاعِ تَمْرِهِ – حَتَّى قَالَ – وَلَوْ بِشقِّ تَمرَةٍ )) فَجَاءَ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ بِصُرَّةٍ كَادَتْ كَفُّهُ تَعجَزُ عَنهَا، بَلْ قَدْ عَجَزَتْ، ثُمَّ تَتَابَعَ النَّاسُ حَتَّى رَأيْتُ كَومَيْنِ مِنْ طَعَامٍ وَثِيَابٍ ، حَتَّى رَأيْتُ وَجْهَ رَسُول الله – صلى الله عليه وسلم – يَتَهَلَّلُ كَأنَّهُ مُذْهَبَةٌ. فَقَالَ رَسُول الله – صلى الله عليه وسلم -: ((مَنْ سَنَّ في الإسلامِ سنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أجْرُهَا، وَأجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ،مِنْ غَيرِ أنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورهمْ شَيءٌ، وَمَنْ سَنَّ في الإسْلامِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيهِ وِزْرُهَا ، وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ ، مِنْ غَيرِ أنْ يَنْقُصَ مِنْ أوْزَارِهمْ شَيءٌ ))

Kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di awal siang, lalu datanglah sekelompok orang yang setengah telanjang dalam kondisi pakaian dari bulu domba yang bergaris-garis dan robek, sambil membawa pedang. Mayoritas mereka dari suku Mudhor, bahkan seluruhnya dari Mudhor. Maka tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat kondisi mereka yang miskin, berubahlah raut wajah Nabi. Nabipun masuk dan keluar, lalu memerintahkan Bilal untuk adzan dan iqomat, lalu beliapun sholat, lalu berdiri berkhutbah. Beliau berkata, “Wahai manusia, bertakwalah kepada Rob kalian yang telah menciptakan kalian dari satu jiwa” hingga akhir ayat tersebut “Sesungguhnya Allah Maha Mengawasi kalian”. Lalu membaca ayat yang lain di akhir surat al-Hasyr “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah, dan hendaknya sebuah jiwa melihat apa yang telah ia kerjakan untuk esok hari”.

Hendaknya seseorang mensedekahkan dari dinarnya, atau dari dirhamnya, dari bajunya, dari gandumnya, dari kormanya…-hingga Nabi berkata- meskipun bersedekah dengan sepenggal butir korma”

Lalu datanglah seorang lelaki dari kaum anshor dengan membawa sebuah kantong yang hampir-hampir tangannya tidak kuat untuk mengangkat kantong tersebut, bahkan memang tidak kuat. Lalu setelah itu orang-orangpun ikut bersedekah, hingga aku melihat dua kantong besar makanan dan pakaian, hingga aku melihat wajah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersinar berseri-seri. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

Barang siapa merintis (memulai) dalam agama Islam sunnah (perbuatan) yang baik maka baginya pahala dari perbuatannya tersebut, dan pahala dari orang yang melakukannya (mengikutinya) setelahnya, tanpa berkurang sedikitpun dari pahala mereka. Dan barang siapa merintis dalam Islam sunnah yang buruk maka baginya dosa dari perbuatannya tersebut, dan dosa dari orang yang melakukannya (mengikutinya) setelahnya tanpa berkurang dari dosa-dosa mereka sedikitpun” (HR Muslim).

Dari kisah di atas jelas bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliaulah yang memotivasi para sahabat untuk bersedekah. Lalu sahabat anshor lah yang pertama kali bersedekah, lalu diikuti oleh para sahabat yang lain. Lalu setelah itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata “من سن في الإسلام سنة حسنة  “Barang siapa yang merintis sunnah hasanah/baik”.

Dari kronologi ini jelas bahwa yang di maksud dengan sunnah hasanah adalah sunnah yang valid dari Nabi, dalam kasus ini adalah sedekah yang dimotivasi oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Wallahu a’lam bishowab.

Diterjemahkan dari kitab: Haqiqatul Bid’ah Waahkaamuha, penulis: Syekih Sa’id bin Naashir Al-Gomidhiy

✍️Muhaimin Abu Shofiya.

Baarokallahu Fiikum

Leave a Comment